Text
Minum dari Sumber Sendiri: Dari Alam menuju Tuhan
Manusia sudah teralienasi dari tempatnya berpijak, yakni lingkungan tempatnya hidup. Manusia juga teralienasi dengan makhluk-makhluk hidup yang lain: tetumbuhan dan margasatwa. Bukannya lingkungan dan makhluk hidup yang lain itu sendiri yang mengasingkan manusia, namun justru manusialah yang mengalienasi diri dari mereka.
Kenyataan bahwa manusia memiliki akal budi, suatu kemampuan unggul yang menarik garis batas yang tegas antarnya dengan ciptaan lain, membuat manusia menjadi arogan dan menjadikan dirinya sebagai pusat semesta alam. Segala sesuai harus ada di bawah telapak kakinya seraya mesti tunduk menyembahnya. Dengan demikian manusia mencipta ulang dirinya menjadi Allah bagi ciptaan lain. Relasi yang akhirnya dibentuk adalah relasi dominatif terhadap sesama ciptakan yang lain. Ia lupa bahwa relasi dengan ciptaan yang lain adalah relasi yang interdependen. Inilah cikal-bakal kerusakan alam dan lingkungan hidup yang menjadi isu hangat dan urgen dewasa ini.
Buku ini menggeluti permasalahan lingkungan hidup melalui pemaparan masalah, kritik atas filsafat yang keliru, revisi atas eksegese Kitab Suci yang terlanjur dipahami berat sebelah, dan penawaran solusi atas masalah lingkungan hidup. Selain itu, buku ini memberikan sumbangan yang nyata berupa kearifan-kearifan lokal yang terbentang mulai dari Kalimantan, Jawa, dan Flores. Kearifan lokal memang jauh lebih ramah lingkungan daripada falsafah modern yang bercirikan materialistik. Dengan mencermati dan merenungkan kearifan lokas, manusia modern diajak untuk kembali menjadi bijak seraya juga diakan untuk menyadari kembali relasinya yang selama ini destruktif terhadap lingkungan hidup. Kearifan lokal yang bermuatan eco-etika ini Allah menuntun manusia pada suatu kesadaran yang pada gilirannya Allah membawanya ke dalam tataran iman yang membumi yakni pertobatan ekologis.
Memang kebijaksanaan lama tidak selalu harus dipandang usaha. Kearifan lokal sebenarnya adalah suatu kecerdasan setempat, suatu kejeniusan lokal, yang sesungguhnya mampu mencelikkan mata manusia modern. Dengan "minum dari sumber sendiri" yang berupa kearifan lokal, manusia modern akan dituntun dari alam menuju Tuhan.
Tidak tersedia versi lain